Lencana Facebook

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Oktober 2010

Se-Rapuh itu kah?

Diantara kertas usang itu
tak mampu aku menulis
1 kata
bahkan 1 huruf
entah aku tak bisa
atau benda ini tak becus

ku tegakkan badan nya
berdiri
kucoba menulis
namun patah
ku raut hingga tajam
tetap patah

serapuh itukah?
hingga tak dapat aku menulis
atau
haruskah ku gunakan
jari jemariku
tak mungkin


Kamis, 12 Agustus 2010

Puisi untuk Mama

Cukup lama kau berlayar
Menyusuri dalamnya kehidupan
Tak ada kata lelah maupun menyerah
Api semangatmu membakar rasa takut ku
Kau membuatku berani
Terjun ke dalam dunia fana ini
Dengan selalu menerangi jalanku
Dan langkah kakiku 

Mah..
Doamu selalu menyelamatkanku
Maaf mu selalu ada untukku
Hingga air mata dan keringatmu kau teteskan untukku
Begitu besar pengorbanan mu
Saat menatapmu adalah hal terindah dalam hidupku
mata mu penuh keteduhan
mencerminkan isi hati mu yang putih
dan bersinar bagai mutiara

Selasa, 25 Mei 2010

Bisikan-Mu..

Baru saja aku terdiam dalam renungan
Tak bisa lagi ku bendung
Air mata ini mengerti akan dorongan hati nurani
Tak kuat lagi untuk memendamnya
Tentang semua penyesalan yang tak berarti
Aku mendengar
Bisikan itu ada diantara tebing kegelisahan
Menyelinap dengan tangan hampa
Aku malu
Takut
Dan Menyesal
Andai waktu itu datang hari ini
Tak akan pernah penyesalan itu ku ukir
Baru ku sadari
Betapa pedihnya bersembunyi di balik kegelisahan
Dengan bisikan
Yang tak henti mengetuk pintu hati

Rabu, 28 April 2010

Diantara deras nya rintik hujan..

Hujan malam ini..
Adalah satu dari sejuta kekaguman ku
akan anugerah tuhan di dunia ini
Kulihat bagaikan butiran-butiran kristal
yang nampak bening dan berkilau
Dan selalu saja menemani malam-malam ku
di bulan september hingga maret setiap tahun nya

Bau tanah yang basah..
Sungguh, Inilah aroma alam yang selalu ku nanti
hingga aku terbuai dalam kenyamanan pesona alam
dibalik kegundahan
namun akhirnya aku tak bisa mengelak
Hujan seolah memaksa aku untuk menyadari
dan mengakui apa yang menjadi kegundahan ku selama ini

Naluri ku kini telah mengakuinya
kenangan singkat itu terkesan sebuah skenario
Kini aku menyadari
Ya, aku sadar..
semua nya sungguh tak terangkai alami
hingga akhirnya tumpah sebuah pertengkaran hebat
antara hati (perasaan) dan akal (pikiran)
Bergemuruh...
Mencoba mencari celah untuk mengakhiri nya
Hingga salah satunya DIAM
dan mengakui kekalahan nya


Aku memang perempuan
Dan aku akui
aku terlalu peka terhadap perasaan ini